Diperebutkan! Sejarah Masjid Al Aqsa

masjid al aqsa

Mustaka – Masjid Al Aqsa adalah salah satu masjid suci umat Islam, selain Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid tersebut berada di Yerusalem Timur, wilayah Kota Tua yang kini berada dalam kekuasaan Israel. Tempat suci ini menjadi saksi dalam konflik berkepanjangan penganut tiga agama; Yahudi, Kristen, dan Islam.

masjid al aqsa

Masjid Al Aqsa adalah keseluruhan dari kompleks Al-Haram Asy-Syarif, Al-Quds, seluas 14 hektare. Di kompleks tersebut, terdapat Jami’ Al Aqsa kubah berwarna perak, dan Dome of The Rock, Qubbah Shakhra’.

Dilansir dari berbagai sumber lain, Masjid Al Aqsa yang berada di Kota Tua Yerusalem memiliki arti penting dan sangat sensitif bagi Israel dan Palestina dari dimensi agama dan kepercayaan sehingga diperebutkan. Hal ini karena Masjid Al Aqsa di percaya sebagai tempat dimana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra Mi’raj ke surga.

Sama halnya dengan umat muslim, bagi warga Israel Masjid Al Aqsa atau Temple Mount di pandang sebagai tempat tersuci dalam agama Yahudi. 

Temple Mount (Bukit Bait Suci) adalah sebuah bukit yang berada di Kota Lama Yerusalem. Selama ribuan tahun, tempat tersebut di muliakan sebagai tempat suci oleh Agama Yahudi, Kristen dan juga Islam.

masjid al aqsa

Pasalnya, mereka percaya bahwa Raja Salomo membangun kuil Yahudi pertama di sana pada 3.000 tahun yang lalu. Kemudian Bangsa Romawi menghancurkan kuil kedua di lokasi tersebut pada 70 M. Baru setelah itu di bangunlah Masjid Al Aqsa oleh khalifah kedua Islam, Omar.

Bangunan suci tersebut menjadi sumber konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Salah satu pemicu konflik adalah adanya pergerakan dari kaum Yahudi untuk beribadah di kompleks suci tersebut.

Kepemilikan Masjid Al Aqsa merupakan salah satu isu dalam konflik Israel-Palestina. Israel mengklaim kekuasaan atas masjid tersebut dan juga seluruh Bukit Bait Suci. Tetapi Palestina memegang perwalian secara tak resmi melalui lembaga wakaf. Selama negosiasi di Pertemuan Camp David 2000, Palestina meminta kepemilikan penuh masjid ini serta situs-situs suci Islam lainnya yang berada di Yerusalem Timur. Namun, Al-Aqsa sebetulnya tidak bisa di klaim sebagai milik umat Islam saja.

masjid al aqsa

>Mengutip Britannica, bagi Yahudi, Al-Aqsa adalah sesuatu yang penting karena di sana lah tempat keberadaan kuil-kuil Yahudi yang tercantum di kitab sucinya. Di bagian Barat, terdapat tembok ratapan yang memiliki tingkat kesucian tinggi. Ini di sebabkan karena tembok itu di percaya sebagai sisa-sisa Kuil Kedua Yahudi yang di hancurkan Romawi pada 70 Masehi.

Lalu, bagi Islam kompleks ini adalah kiblat pertama bagi umat Islam di seluruh dunia sebelum Ka’bah. Sedangkan, bagi umat Kristiani, kompleks Al-Aqsa dan kota Jerussalem di yakini sebagai tempah penyembelihan Ismael (Ismail) yang di lakukan Abraham (Ibrahim.)

masjid al aqsa

Akibat tempat itu memiliki arti penting bagi ketiga agama, maka kerap kali menjadi ‘sengketa’. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun sebetulnya sudah menetapkan kawasan itu menjadi warisan dunia.

Status itupun di barengi oleh kedudukan khusus di bawah naungan PBB untuk menghindari konflik terbuka. Namun, seiring memanasnya masalah Israel-Palestina, Masjid Al-Aqsa selalu menjadi area konflik terbuka. Dengan sewenang-wenang, polisi Israel kerap melakukan represi kepada umat Muslim yang sedang beribadah.

Kondisi ini makin parah ketika Jerussalem resmi diakui sebagai ibukota Israel, dan Amerika Serikat secara resmi mendukungnya dengan memindahkan kedutaan besarnya di kota tersebut.

Sejarah Masjid Agung Banten

kubah masjid

Sejarah Masjid Agung Banten didirikan pada 1566 M ketika Maulana Hasanuddin menjabat sebagai Sultan Banten pertama pada 1552-1570. Inilah warisan kesultanan Banten yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Sebagaimana sejarah masjid lain di Nusantara, Masjid Agung Banten berdenah segi empat dengan rancang bangun yang unik. Arsitekturnya merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Cina, dan Eropa.

kubah masjid

Karena pembangunannya melibatkan tiga arsitek dari negeri yang berbeda. Raden Sepat merupakan arsitek utama berasal dari Majapahit yang juga menukangi Masjid Cirebon; Tjek Ban Tjut arsitek asal Cina; dan Hendrik Lucaz Cardeel asal Belanda. Atas jasa-jasa mereka menegakkan simbol kebesaran Islam itu, Tjek Ban Tjut dianugerahi gelar bangsawan dari kesultanan dengan nama Pangeran Adiguna.

Sedangkan, Hendrik Lucaz Cardeel yang kemudian diketahui memeluk Islam mendapatkan gelar Pangeran Wiraguna. Bentuk arsitektur lokal karya Raden Sepat dapat dilihat dari empat tiang penyangga (saka guru) di bagian dalam bangunan masjid. Di ruangan ini terdapat mimbar kuno berukir indah yang menegaskan kuatnya nuansa lokal.

Cerita Sejarah Masjid

Sebuah cerita mengatakan bahwa ia merupakan wakaf Nyai Haji Irad Jon jang Serang pada 23 Syawal 1323 Hijri yah (1903 M) sebagaimana tertulis de ngan huruf Arab gundul pada penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Pendapat kedua memperkirakan, mim bar itu adalah buah karya Tjek Ban Tjut. Tjek Ban Tjut adalah arsitek pembantu Raden Sepat.

kubah masjid

Ialah yang konon membuat atap masjid begitu mirip dengan atap pagoda. Atap yang melingkar berbentuk bujur sangkar itu bertingkat lima, yang menyimbolkan rukun Islam. Dua atap paling atas kental dengan arsitektur Cina. Semakin rendah, atapnya semakin lebar, menaungi serambi di sisi utara dan selatan, di mana bersemayam jasad para ulama dan anggota keluarga kesultanan terdahulu.

Adapun karya Hendrik Lucaz Cardeel berupa menara setinggi 24 meter yang terletak di sebelah timur masjid. Bentuknya segi delapan, pintu masuk melengkung pada bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat. Ini ada lah arsitektur khas Belanda. Karena itu, keberadaanya menjadi kurang serasi dengan bangunan masjid. Semula bangunan ini bukanlah menara adzan, tetapi menara rambu dan pengintai untuk pelabuhan Banten yang terkenal sibuk.

Ada yang berupaya memaknai bentuk bangunan menara dengan sudut pandang Islam. Segi delapan di sinyalir hasil pembagian dari 24 di bagi 3. Dua puluh empat adalah simbol waktu, 24 jam. Sementara 3 adalah simbol dari ibadah, ma’isyah (sumber nafkah) dan istirohah (istirahat). Jadi, pesan yang ingin di sam paikan, agar umat Islam memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk ketiga hal tersebut, yang masing-masing memiliki alokasi waktu sebanyak 8 jam.

Sejarah masjid banten

Karya Hendrik Lucaz Cardeel lainnya adalah Tiamah di sebelah selatan masjid. Yaitu, bangunan semacam pavi liun yang dahulu sering di gunakan para ulama dan umara Banten untuk men diskusikan masalah-masalah keagamaan. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, khususnya pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu di maksudkan untuk mengatur sirkulasi cahaya dan udara.

Tiamah

Sekarang Tiamah di gunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan Kesultanan Banten. Saat ini, Masjid Agung Banten masuk dalam wilayah Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten. Keberadaan nya menjadi tujuan wisata religius, sejarah, pendidikan, dan budaya. Pada hari-hari besar Islam, misalnya peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, ribuan peziarah dari dalam dan luar daerah me nyatu memperingati kelahiran Baginda Rasul.

Keberadaan makam ulama dan keluarga kesultanan serta museum menambah daya tarik masjid bagi masyarakat. Para peziarah yang datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga memperluas wawasan tentang sejarah perjalanan bangsa. Dengan demikian, tidak semata sebagai tempat di mana hamba bermunajat kepada Tuhannya, tetapi juga sarana menginternalisasi nilai-nilai sejarah dan budaya.

Masjid Baitul Izzah Islamic Center Tarakan

Masjid Baitul Izzah

Masjid Baitul Izzah Islamic Center Tarakan dikenal sebagai masjid terbesar di Kota Tarakan di provinsi Kalimantan Utara. Sejak selesai pembangunannya dan peresmian pada tahun 2012. Masjid selalu menjadi pusat studi dan kegiatan keagamaan seperti pagelaran MTQ dan kegiatan kerohanian lainnya. Di tahun 2017 yang lalu masjid ini menjadi pusat STQ tingkat Nasional.

Pembangunan komplek masjid ini di atas lahan seluas 30 hektar. Terdiri dari bangunan utama yang luas dan beberapa lantai yang digunakan untuk sholat,  melakukan kegiatan islami lainnya. Interior masjid di hias dengan ukiran ukirannya baik di pintu maupun jendela dan tembok-temboknya. Bangunan ini juga di lengkapi dengan jendela jendela besar, sehingga terlihat kemegahannya.

Masjid Baitul Izzah
Islamic Center Tarakan

Jl. Sei Sesayap Kelurahan Kampung Empat
Tarakan Timur, Kota Tarakan, Kalimantan Utara

Masjid Baitul Izzah

Hal lain yang menjadi keunikan masjid ini ialah adanya lantai dasar yang di pergunakan sebagai lahan atau area parkir para pengunjung. Lahan tersebut bisa di bilang sangat luas dan mampu menampung kendaraan besar seperti bis sekalipun. Di bagian sudut ruangan dalam masjid, di bangun beberapa bangsal bangsal kecil yang dengan tujuan untuk memudahkan para wisatawan dari luar daerah, apabila sedang ada perhelatan.

Masjid Baitul Izzah, Islamic Center Tarakan memiliki struktur bangunan berupa 1 kubah utama, dan 4 kubah kecil pendukung yang terletak di atas bangunan utamanya. Tak hanya itu, masjid ini juga memiliki 1 buah Minaret di sebelah utara bangunan masjid. Masjid yang begitu megah ini sangat terlihat cantik dengan ornament dan kerajinan lainnya.

Masjid Baitul Izzah

Di katakan sebagai masjid terbesar di Kota tarakan, membuatnya berhasil menjadi objek wisata religi yang di gandrungi wisatawan lokal maupun daerah. Berdasarkan ulasan tersebut, dapat di simpulkan bahwa Islamic Center Tarakan dengan gaya Timur Tengah tersebut bisa saja menjadi masjid dengan panorama yang mungkin tak bisa di temukan di tempat lain. Tak hanya keindahan arsitektur yang memukau, masjid ini juga memiliki fasilitas memadai yang menunjang kenyamanan jamaah. Itulah beberapa ulasan yang mimin rangkung dari sumber sumber terupdate.

Masjid Gedhe Kauman Jogja Yang Ramai Dikunjungi

masjid-gedhe-kauman_

Masjid Gedhe Kauman adalah masjid raya yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kesultanan Yogyakarta. Pembangunan Masjid Gedhe terletak di sisi barat Alun-Alun Utara dan barat daya pasar Beringharjo yang tidak jauh dari bangunan Keraton. Keberadaan Masjid Gedhe Kauman Menegaskan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam dan simbol harmonisasi kebudayaan Jawa dan Agama Islam.

masjid-gedhe-kauman_

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta di Bangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada 29 Mei 1773 yang merupakan simbol harmonisasi sisi kebudayaan khas kerajaan yogyakarta yang sarat perjalanan sejarah dengan religiusitas masyarakatnya. Selain sebagai sarana beribadah bagi keluarga raja dan rakyatnya, masjid yang juga di kenal sebagai Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut juga sebagai kelengkapan Kerajaan Islam Ngayogyakarta Hadiningrat.

Fungsi

Pada awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta, Masjid Gedhe Kauman di Gunakan sebagai;

  • Pengadilan Agama
  • Tempat Pertemuan Para Ulama
  • Pengajian Dakwah Islami
  • Peringatan Hari Besar

masjid gedhe kauman_1

Pasalnya, selain di Bangun untuk fungsi keagamaan, masjid ini juga sebagai kelengkapan Kesultanan Yogyakarta. Oleh karena itu, pimpinan pengurus masjid ini adalah penghulu keraton, yang juga abdi dalem keraton.

Salah satu abdi dalem penghulu keraton yang pernah memimpin masjid ini adalah KH Ahmad Dahlan, pahlawan nasional yang dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah.

Arsitektur

Gaya arsitektur Masjid Gedhe Kauman bercorak jawa yang mengadopsi dari Masjid Demak. 4 pilar utama yang dikenal dengan saka guru dengan atap berbentuk tajug lambang teplok atau bentuk atap bersusun tiga. Atap yang menggambarkan tahapan dalam menekuni ilmu tasawuf, yaitu syariat, thareqat, ma’rifat. Selain itu, tiga tingkat pada atap tersebut juga dapat bermakna sebagai iman, islam, dan ikhsan.

masjid gedhe kauman_8

Bangunan utama masjid terdiri dari dua lantai, lantai atas serambi di sangga oleh 24 tiang dan lantai bawah 32 tiang. Hebatnya tiang tersebut tetap berdiri kokoh meski telah berusia 400-500 tahun.

Ketika masuk ke ruang utama masjid, nuansa kental khas jawa akan sangat terasa suasana jawa tempo dulu. Di bagian dalam ini juga terdapat sebuah mihrab serta maksura. Maksura di fungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman. Tidak jauh dari mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar terbuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornamen stilir tumbuhan dan bunga di prada emas.

Selain ruang inti, masjid ini juga di lengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti;

  • Pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri)
  • Yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot)
  • Blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid.

Bagaimana apa Anda tertarik mengunjungi Masjid Bersejarah ini?

Pernah Lihat Masjid Agung Karanganyar

lihat masjid agung karanganyar

Masjid Agung Karanganyar – Karanganyar merupakan Kabupaten yang ada di Jawa Tengah, memiliki sejuta pesona alam yang begitu menarik yang wajid kita kunjungi. Selain pesona alamnya karnganyar juga memiliki sebuah tempat ibadah bagi kita kaum muslim yang sungguh bagus dan megah. Masjid Agung Madaniyah yang mirip Masjid Nabawi, mempunyai empat tiang penyangga payung berdiri berjajar dengan megahnya.

Masjid Agung Karanganyar

Masjid Agung Madaniyah di Kabupaten Karanganyar, di bangun layaknya Masjid Nabawi di perkirakan mampu menampung 4.000 jemaah. Hingga kini tahapan finishing pembangunan masjid menelan anggaran Rp89 miliar masih berjalan. Bentuk payung ini sama seperti yang tampak di bagian luar Masjid Nabawi. Wacana pembangunan  yang mirip Masjid Nabawi sudah di utarakan Bupati Karanganyar Juliyatmono sejak beberapa waktu lalu. Pada 31 Desember 2019, Yuli mengatakan Masjid Agung Karanganyar bakal disulap seindah Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

lihat masjid agung karanganyar

Masjid Agung Madaniyah Karanganyar dirancang oleh PT Sarana Budi Semarang. Di desain seperti Masjid Nabawi di Madinah. Masjid megah ini memiliki sembilan pintu dengan ukuran sangat besar. Masing-masing pintu tingginya tiga meter dengan lebar dua meter yang membuat masjid terlihat kolosal. Ornamen tembaga dengan warna emas menghiasi pintu masjid yang terbuat dari kayu jati. Ornamen tembaga berwarna emas ini berukir motif kaligrafi. “Konsep masjidnya seperti masjid di Madinah sana. Arsitekturnya memang seperti masjid di sana [Madinah],” kata Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya DPUPR Karanganyar, Asihno Purwadi, Senin (21/2/2022).

Seperti Masjid Nabawi

Masjid Agung Karanganyar

Ciri khas kontemporer klasik Utsmaniyah Mamluk langsung bisa di lihat dari bentuk pilar melengkung dengan motif hitam putih. Desain pilar seperti ini ada di semua bagian masjid tersebut. Proyek pembangunan Masjid tak berjalan sesuai harapan. Sejatinya, proyek ini harusnya selesai pada 17 Desember 2021. Namun apa lacur, PT MAM Energindo gagal memenuhi tenggat waktu yang di sepakati. Hingga 10 hari penambahan masa kerja oleh Pemkab, kontraktor asal Jakarta Selatan itu tak juga bisa menyelesaikan pembangunan.

Memasuki tahun 2022, belum ada tanda-tanda pasti kapan masjid yang di desain ala Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, ini rampung. Meski begitu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menginginkan Masjid Agung Karanganyar itu di resmikan Presiden Joko Widodo pada 28 Januari 2022. Artinya, masjid harus selesai sebelum hari-H. Namun, keinginan itu tak juga terwujud. Hingga akhir Februari, masjid belum rampung. Baru pada Jumat (11/3/2022), Masjid Agung Madaniyah Karanganyar akhirnya di buka perdana untuk umum.

Sejarah Masjid Agung Semarang

masjid agung semarang

Sejarah Masjid Agung Semarang –  Merupakan masjid yang di bangun pada pertengahan abad ke 16. Warisan budaya yang patut di lestarikan dan terus mengalami perbaikan. Arsitektur Masjid Agung Semarang di pengaruhi oleh seorang arsitek Belanda, hal ini menyebabkan adanya perpaduan antara budaya tradisional jawa, Belanda dan Arab. Lokasi pembangunan berada di barat Alun-Alun Kota Semarang yang selanjutnya beralih fungsi dengan dominasi perdagangan.

masjid agung semarang

Berdasarkan catatan sejarah, Masjid Agung Semarang pertama di bangun pada masa kesultanan Demak di Daerah Kabupaten Semarang Selatan yang bukan merupakan tempat berdirinya Masjid Agung Semarang saat ini. Pada Masa penjajahan Belanda di Indonesia, terjadi pemberontakan kaum tionghoa akibat permasalahan dagang dengan VOC. Hal ini menyebabkan kebakaran besar yang memusnahkan Masjid pada lokasi terdahulu.

Pembangunan Ke 2

Musibah ini mengakibatkan Masjid Agung Semarang di bangun kembali pada lokasi yang berbeda yaitu di sebelah barat Alun-Alun Kota Semarang, Jalan Kauman Semarang. Pembangunan kembali di laksanakan dari tahun 1759 -1760. Pada tahun 1867 di laksanakan perbaikan bangunan masjid untuk mempertahankan kondisi semula dan baru selesai pada tahun 1883 karena masalah politik dan pendanaan. Namun, pada tahun 1885 masjid kembali terbakar akibat sambaran petir, pembangunan kembali di laksanakan pada tahun 1889 dengan bantuan seorang arsitek Belanda bernama Ir. G. A. Gambier dan selesai pada tahun 1890 atas prakarsa dari Asisten residen Semarang G.J. Blumme dan Tumenggung Raden Tjondrodipeoero sebagai Bupati Semarang.

masjid agung semarang

Masuknya Belanda ke Indonesia memberikan pengaruh pada bangunan maupun tatanan perkotaan. Hal ini juga terjadi pada Masjid Agung Semarang. Perpaduan gaya colonial dan tradisional terlihat dari struktur, material dan ragam hias dalam masjid. Peralihan fungsi alun-alun Kota Semarang pun banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintahan colonial, seperti membangun pasar Johar di kawasan Alun-Alun. Penelitian bangunan Masjid Agung sebagai objek heritage yang juga melihat konteks di luar bangunan masjid itu sendiri. Dengan adanya penelitian ini di harapkan dapat berkembang untuk membuat sebuah penelitian serupa yang lebih mendalam untuk mengetahui pengaruh peralihan fungsi alun-alun terhadap bentuk arsitektur Masjid Agung.

Kemegahan arsitektur Masjid ini memang luar biasa, tidak salah jika di katakan salah satu Masjid terindah di asia tenggara. Salah satu daya tarik Masjid Agung Jawa Tangah adalah Menara Al-Husna. Tinggi menara 99 m, ittibak angka Al-Asmaul Husna. Itulah sedikit ulasan dari Sejarah Masjid Agung Semarang yang bisa kita pelajari dan menambah pengetahuan tentang ilmu sejarah.

Fakta Masjid Megah Ramlie Musofa, Sunter

Fakta Masjid Megah Ramlie Musofa, Sunter

Masjid Megah Ramlie Musofa merupakan masjid cantik yang dominan berkelir putih yang beralamat di Jalan Danau Sunter Selatan 1, blok 1/10 nomor 12 C 14 A, Bagi kamu yang baru melihatnya, pasti akan melihat sebuah masjid yang mirip dengan Taj Mahal di India.

Ada beberapa fakta menarik dari Masjid Megah Ramlie Musofa ini, di antaranya adalah :

Nama Masjid Berasal Dari Keluarga

Fakta Masjid Megah Ramlie Musofa, Sunter

Nama Masjid tersebut adalah Ramlie Musofa. Ramlie Musofa merupakan nama singkatan dari Ram=Ramli Rasidin, Lie=Lie Njoek Kim, Mu=Muhammad Rasidin, So=Sofian Rasidin dan Fa=Fabianto Rasidin. Nama keluarga di ambil untuk nama masjid harapannya agar selama masjid ini masih di fungsikan inshaAllah pahalanya bisa tetap mengalir kepada keluarga. Selain sang pemilik, Haji Ramli Rasidin juga sangat mencintai keluarganya dan menunjukkan rasa cintanya dengan adanya masjid tersebut. Bangunan masjid ini terdiri dari tiga lantai, lantai dasar di peruntukkan untuk tempat shalat wanita dan ijab kabul, lantai 2 dan seterusnya dipergunakan untuk shalat pria.

Tempat Wudhu Memiliki Tempat Duduk

Diketahui tempat mengambil air wudhu di masjid ini, memiliki tempat duduk. Hal ini di wujudkan untuk memudahkan disabilitas dan juga lansia dalam berwudhu. Selain itu, dalam ruangan berwudhu itu terdapat tata cara berwudhu yang di tulis dalam bahasa indonesia. Mengenai hal tersebut, di maknai untuk memudahkan seseorang yang barj memeluk islam atau muallaf menjalankan kewajibannya jika belum fasih menggunakan bahasa arab. Maka dari itu, di dindingnya dituliskan doa sebelum dan sesudah berwudhu serta tata cara berwudhu.

3. Terdapat Dua Lift

Fakta Masjid Megah Ramlie Musofa, Sunter

Tersedia juga dua lift yang di peruntukkan untuk mempermudah lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas yang ingin beribadah di Masjid Ramlie Musofa. Pengurus dan Imam salat masjid ini, Sholehuddin mengatakan keberadaan lift tersebut juga di gunakan pribadi pemilik jika berkunjung ke masjid miliknya. “Lift bisa di gunakan siapa saja ada dua, khusus untuk di sabilitas, ibu hamil dan lansia, Pak Haji Ramli pun menggunakannya,” kata Sholehuddin.

4. Tiga Bahasa

Pada bagian depan masjid terdapat surat Al-Fatihah yang di ukir di kanan kiri dinding tangga. Tersalat tiga bahasa yang di gunakan, yakni bahasa Arab, Indonesia dan Mandarin. Tujuannya untuk mempermudah muallaf dan wisatawan asing yang berasal dari Tionghoa yang ingin berkunjung ke Masjid Ramli Musofa.

5. Pemilik Seorang Muallaf

Haji Ramli Rasidin merupakan seorang muallaf yang juga keturunan dari Aceh. Saat usianya 19 tahun, Haji Ramli memutuskan untuk memeluk agama Islam. Dan sebagai bukti cintanya pada Allah swt, dibangunnya Masjid Ramlie Musofa. Wujud cinta pada keluraga juga di tunjukkan pada penamaan masjid yang berasal dari potongan atau penggalan nama anggota keluarga. Pada tahun tahun 2011 pembangunan masjid yang berada di tanah seluas 2.000 m2 pun mulai terlaksana. Kemudian masjid selesai di bangun tahun 2016. Setelah masjid jadi, H. Ramli Rasidin pada 15 mei 2016 mengundang Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. H Nasaruddin Umar untuk meresmikannya.

Masjid Besar dan Kubah Megah di Korea Selatan

masjid besar dan kubah megah di korea seatan

Negara yang memiliki 4 musim indah ini selalu menarik perhatian turis dari berbagai dunia. Kemajuan teknologi, keindahan alam, hingga budayanya berhasil menarik banyak turis dari mancanegara setiap tahunnya. Kesempatan kali ini saya akan memberikan beberapa list masjid besar dan megah yang bisa kalian kunjungi sekaligus berwisata di Korea Selatan. Yuk simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Si’ul Al Markaz

masjid besar dan kubah megah di korea seatan

Masjid pertama yang harus kalian kunjungi ketika berada di ibu kota Korea Selatan yaitu Seoul, masjid yang berpusat di daerah Itaewon. Seoul Central Mosque, menjadi masjid tertua yang berdiri di Itaewon, Korea Selatan. Meresmikan Masjid megah yang indah ini pada tanggal 21 Mei tahun 1976 dan bernama Masjid Si’ul Al Markaz. Masjid yang berada di distrik Yongsan-gu, Itaewon ini memiliki luas bangunan 427 meter persegi, diperkirakan bisa menampung hingga 800  jamaah. Wow, megah sekali kan? Jangan lupa untuk mampir ke tempat ini apabila kalian ingin beribadah ya!

Sirothol Mustaqim

masjid besar dan kubah megah di korea seatan

Selanjutnya masjid megah lainnya bisa kita temukan di Kota Ansan, merupakan daerah yang penduduknya banyak orang asing dan salah satunya adalah orang Indonesia. Masjid itu adalah Masjid Sirothol Mustaqim yang bangunan megahnya terdiri dari 4 lantai. Dimana lantai 1 digunakan sebagai area parkir, wudhu dan juga ruangan untuk imam. Lantai kedua dan ketiga guna untuk sholat, lantai keempat guna sebagai ruangan untuk kegiatan khusus orginasasi Islam di Ansan. Yuk datang dan beribdah di masjid ini!

Abu Bakar Al-Siddiq

Sebenarnya di Korea Selatan ada beberapa masjid yang bisa kita temukan dan bisa kita jadikan tempat untuk melakukan shalat. Selain dua masjid tadi, ketika kalian berkunjung ke Jeonju maka kalian bisa datang ke Masjid Abu Bakar Al-Siddiq. Masjid yang sudah beridiri sejak tahun 1985 ini memiliki arsitektur yang sangat indah dan megah karena memiliki arsitektur dengan paduan desain budaya Korea dan Islami yang bisa kita lihat dari desain atap kubah masjid. Menarik bukan?

Al-Fatah

masjid besar dan kubah megah di korea seatan

Train to Busan? Tenang saja, Busan tidak se-ngeri yang ada di film zombie Train to Busan ya. Di Busan kita bisa menemukan masjid megah yang bisa kita kunjungi sebagai tempat wisata religi dan sekaligus kita gunakan untuk beribadah dengan nyaman. Masjid itu adalah Masjid Al-Fatah yang tepatnya berada di Namsan-dong, Geumjeong-gu, busan. Masjid yang berdiri sejak tahu 1980 ini adalah salah satu masjid tertua kedua setelah masjid di Seoul yang sudah kami sebutkan di poin 1 tadi. Di masjid yang megah dengan cat dominan putih ini kita tidak hanya bisa beribadah saja, kita bisa memperdalam Islam kita di rempat ini. Kita juga bisa membaca dan lebih mengenal agama Islam karena tersedia banyak bacaan Islami di masjid megah ini. Waw, sungguh menakjubkan ya traveler!

Umar Bin Khattab

Masjid megah terakhir yang bisa traveler kunjungi ketika berlibur ke Korea Selatan adalah Masjid Umar Bin Khattab. Masjid yang berlokasi di Gwangju tepatnya Yangsan-Dong, Buk-Gu, Gwangju.Mungkin ketika datang ke masjid ini traveler akan heran karena masjid ini berbeda dengan masjid pada   umumnya. karena masjid ini tidak mengunakan kubah dan biasa saja bentuknya. Namun jangan salah sangka karena masjid ini merupakan salah satu masjid yang menjadi penggerak umat Islam di Gwangju. Yuk datang ke masjid ini!

Nah itu tadi beberapa masjid yang bisa kita kunjungi selama berada di Korea Selatan. Selain bisa beribadah di masijd-masid ini kita juga bisa sekaligus mempelajari bagaimana perkembangan Islam di Korea.