Diffuser Air Grille : Main Hole

Diffuser Air Grille : Main Hole

 

Salah satu komponen HVAC yang sering dipakai di perkantoran, gedung, hotel, restoran adalah Diffuser Air Grille & Louvre/Jalluci, produk dari PT Mustaka Multi Tehnik ini memakai bahan Aluminium 60XX Series, dengan ketebalan max. 1.5 mm dan dengan teknik pelapisan sistem powder coating, setiap produk air grille dan louvre yang kami produksi semuanya berdasarkan ukuran pesanan dan warna yang digunakan (sesuai katalog).

 

Diffuser Air Grille ini akan menjadi elemen pendukung dalam pekerjaan HVAC, karena di dalam sistem ducting air grille ini berfungsi sebagai media sirkulasi udara untuk mensupply maupun mengembalikan aliran udara yang sudah mengalami proses air treatment (pendingin maupun pemanas) didalam unit central untuk didistribusikan ke berbagai ruangan yang akan dikontrol udaranya agar selalu stabil.

Salah satu project kami bersama PT LEETEX GARMENT INDONESIA, Sinarjati Kec. Dawuan Kab. Majalengka – Jawa Barat, telah kami kerjakan dan siap dikirim.

 

Untuk info lebih lanjut dan mengenal produk kami lainnya kunjungi di : https://mustakagroup.com

Untuk info lebih lanjut tentang produk ini kunjungi kami di : https://mustakagroup.com/air-grille-dan-louvre/

Untuk brosur pdf produk ini bisa di download disini : https://mustakagroup.com/download/

 

#exhaustfan #sirkulasiudara #ventilator

#airgrille #ventilasiudara #jendela #louvre #diffuser #linka.id

Admin ; BN

Menara Berbahan Zincalume

Menara Berbahan Zincalume
Tahukah Anda …

PT Mustaka Multi Tehnik bukan hanya spesialis di bidang produsen kubah, namun juga siap menerima request sesuai permintaan dan spesifikasi dari klien, seperti project yang sedang kami kerjakan sekarang ini, kubah menara dengan bahan zincalume finish dekoratif, yang merupakan baja lembaran berlapis logam paduan komposisi 55% Almunium dan 45% seng, memakai teknik pelapisan sistem powder coating.

Perpaduan warna Emas (S/Clear Gold) dan sedikit warna Coklat tua (J/ATQ COPPER) yang berbeda jenis teksturenya. Pelapisan dengan sistem powder coating ini akan menghasilkan warna yang lebih stabil, keras dan lebih tebal di bandingkan dengan pelapisan konvensional, ketebalan cat powder coating bisa mencapai 350 mikron atau setara dengan 0,35 mm, sedangkan ketebalan cat minyak pada umumnya sekitar 40 mikron atau setara dengan 0,04 mm.

Project menara seperti ini sudah pernah kami buat sebelumnya, tapi dengan bentuk yang berbeda – beda tergantung permintaan pesanan dari konsumen, lokasi project berada di daerah Kecamatan Dawe, Kab. Kudus, Jawa Tengah.
Semoga project berjalan lancar sampai ke lokasi tujuan, di beri kemudahan dalam pemasangan dan keberkahan dalam segalanya, aamin..

Kunjungi juga produk kami lainnya !!
Kubah Stainless Steel
Kubah Dekoratif Warna

Kubah Panel Warna
Kubah Enamel Warna
Air Grille & Louvre
Turbine Ventilator
Jendela Almunium Linka

Admin : BN

Telusuri Sejarah Masjid Al Ghamamah di Kota Madinah

Masjid Al-Ghamamah

 

Masjid Al-Ghamamah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini berada sekitar 300 meter sebelah barat daya Masjid Nabawi, tak bejauhan dengan Masjid Abu Bakar Siddiq R.A dan Masjid Ali Bin Abi Thalib R.A. Bangunan masjid ini dibangun untuk mengenang beberapa peristiwa penting dimasa kehidupan Rosulullah S.A.W. dan peristiwa peristiwa penting tersebut juga yang hingga kini melekat sebagai nama masjid ini.

Masjid ini bersama kubah masjid bersejarah yang berada disekitar Masjid Nabawi lainnya sempat di kabarkan berbagai media, akan di gusur oleh pemerintah Arab Saudi dalam rangka proyek perluasan Masjid Nabawi. Hal tersebut lebih kepada ke khawatiran akan lenyapnya situ situs sejarah Islam disana seperti yang sudah dilansir berbagai media bagaimana mega proyek perluasan Masjidil Haram di kota Mekah telah menyebabkan lenyapnya situs situs sejarah disana.

Namun, hingga tulisan ini kami muat, masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi masih berdiri kokoh ditempatnya dengan bentuk aslinya dan pemerintah Arab Saudi juga telah melakukan langkah langkah konservasi terhadap bangunan bangunan tersebut termasuk renovasi dan penataan kawasan disekitarnya bersamaan dengan proyek perluasan Masjid Nabawi.

Lokasi Masjid Al-Ghamamah saat ini hanya terpaut beberapa meter dari sudut barat daya areal pelataran Masjid Nabawi paska perluasan. Sehingga komplek Masjid Nabawi pun terlihat jelas dari masjid ini begitupun sebaliknya. Lokasi masjid Al-Ghamamah juga berdekatan dengan dua masjid bersejarah lainnya yakni Masjid AbuBakar Sidik dan Masjid Sahabat Ali bin Abi Thalib.

Nama dan Sejarah Masjid Al-Ghamamah

Disebut sebagai masjid Al-Ghamamah yang berarti awan mendung, di lahan masjid ini berdiri merupakan tempat Rosulullah S.A.W melaksanakan Sholat Istisqo’ untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Dan segera setelah pelaksanaan sholat awan mendung pun datang menggelayut disusul dengan turun-nya hujan. Itu sebabnya sampai kini masjid ini disebut Masjid Al-Ghamamah, mengabadikan peristiwa di masa Rosulullah tersebut.

Masjid ini juga disebut sebagai masjid Id atau masjid Hari Raya, karena dalam sejarahnya, lokasi tempat masjid ini berdiri merupakan tempat Nabi Muhammad S.A.W melaksanakan sholat hari raya di empat tahun terahir kehidupan Beliau. Perlu di ketahui bahwa pada masa Rosulullah di tempat ini hanyalah tanah lapang yang beliau gunakan untuk melaksanakan sholat, belum berbentuk sebuah bangunan masjid.

Di lokasi ini atau di lokasi yang berdekatan dengan lokasi masjid ini, Rosulullah S.A.W pernah melaksanakan sholat jenazah bagi Najashi. Beliau adalah Kaisar Aksum di Abbysinia (kini Ethiopia). Dalam riwayat disebutkan bahwa Najashi adalah seorang raja di kerajaan Aksum di Ethiopia yang beragama Kristen, namun menyambut baik kedatangan kaum muslimin yang mengungsi ke negerinya menghindar dari kekejaman kafir Quraisy Mekah. Dikemudian hari Najashi pun berikrar masuk Islam.

Beribadah di Atas Bukit Masjid Agung Al Kautsar

Masjid Agung Al-Kautsar Kendari merupakan bangunan monumental bagi rakyat Sulawesi Tenggara. Di samping menjadi pusat kegiatan ibadah dan dakwah, masjid ini berfungsi sebagai sarana pengembangan budaya.

Masjid yang berdiri megah tersebut memiliki sejarah panjang. Pada tahun 1962, di lokasinya berdiri sebuah masjid Komando Resor Militer (Korem) yang dulu dikenal sebagai masjid tentara. Baru pada tahun 1976 pondasi Masjid Agung Al-Kautsar mulai diletakkan.

Beribadah di Atas Bukit Masjid Agung Al Kautsar
Beribadah di Atas Bukit Masjid Agung Al Kautsar

Nama Al-Kautsar dipilih karena sangat kaya makna. Al-Kautsar merupakan surat ke-108 dalam kitab suci Al-Quran. Menurut pencetus nama ini, Kepala Kanwil Agama Sulawesi Tenggara K.H. Baedawie, Al-Kautsar berarti pemberian nikmat yang berlimpah kepada umat manusia.

Secara keseluruhan, bentuk awal masjid ini terdiri dari bangunan induk satu lantai, tempat wudhu, WC, kantor, perpustakaan, dan pelataran. Masjid juga dilengkapi kolam air mancur dan menara. Kala itu bagian depan masjid belum berpintu.

Pada periode 2003-2008, masjid dipercantik dengan penambahan lantai dua di sisi kanan dan kiri, kaca jendela, teras depan, pembangunan dua buah mimbar, dan ruang istirahat imam. Kolam dan air mancur di depan masjid direhabilitasi menjadi pelataran baru.

Kubah Masjid Cantik Masjid Agung Al Kautsar

Pada perkembangannya, mimbar diubah kembali menjadi satu saja. Masjid pun diperindah dengan seni kaligrafi Asma’ul Husna di kubah masjid bagian dalam. Saat kita menengadah, akan tampak sederet huruf Arab memesona yang tidak lain adalah nama- nama agung Allah Swt. Selain itu, di dinding masjid terlukis lafaz zikir kepada Sang Pencipta.

Di samping kemegahan bangunannya, Masjid Agung Al-Kautsar juga memiliki kelebihan dalam hal lokasi. Posisinya yang berada di atas bukit membuat masjid ini terlihat sangat memukau.

Masjid ini juga merupakan saksi bisu bencana alam yang sempat melanda kota Kendari pada tanggal 25 April 2011. Ketika itu, gempa berkekuatan 6.0 Skala Richter mengguncang kota dan membuat salah satu kubah kecil yang berada di atas masjid menjadi miring.

Telusuri Sejarah Masjid Kesultanan Ternate

Pada malam ke-16 bulan Ramadhan, Sultan Ternate beserta para kerabat dan dewan keagamaan Kesultanan yang disebut Bobato Akhirat mengadakan sebuah ritual turun ke Masjid untuk salat. Sang Sultan akan melakukan Tarawih pada pukul setengah delapan malam. Yang menarik adalah cara Sang Sultan menuju Masjid Kesultanan yang hanya berjarak sekitar 100 meter saja dari Kedaton Ternate. Sang Sultan adakan diusung dengan menggunakan tandu oleh para pasukan Kesultanan dengan diiringi alunan alat musik Totobuang. Setelah Tarawih, Sultan akan kembali ke Istana dengan diikuti oleh seluruh rakyat yang akan bertemu, bersalaman, bahkan menciumi kaki Sultan ketika rombongan Sultan sampai di Kedaton. Hal ini dilakukan sebagai sebuah buktik kesetiaan dan kecintaan rakyat Ternate terhadap Sang Sultan.

Telusuri Sejarah Masjid Kesultanan Ternate
Telusuri Sejarah Masjid Kesultanan Ternate

Ilustrasi di atas adalah sebuah gambaran satu upacara ritual adat Ternate yang bernama Kolano Uci Sabea. Upacara ini merupakan bagian dari keberadaan Kesultanan Ternate yang memiliki latar belakang pemerintahan Islam sejak masa lalu. Adanya Islam sebagai dasar dari segala kegiatan Kesultanan tentu tidak akan lepas dari pendirian sebuah Masjid yang menjadi Masjid Kesultanan. Pengaruh budaya Islam Arab dan budaya lokal Ternate telah membaur dan memunculkan sebuah harmonisasi Islam di Ternate. Salah satu hasil harmonisasi ini adalah Masjid Kesultanan Ternate yang bersejarah dan bernilai budaya tinggi.

Masjid Kesultanan Ternate yang juga biasa disebut Sigi Lamo ini mulai dibangun sejak pemerintahan Sultan Ternate yang kedua yaitu Sultan Zainal Abidin. Namun beberapa sumber lain juga menyebutkan bahwa Masjid ini baru dibangun pada awal abad ke-17 saat Sultan Saidi Barakati memerintah. Memang belum ada sumber pasti yang menyatakan tahun berdirinya Masjid, namun hingga kini kedua pernyataan di atas menjadi yang paling umum dipercaya. Walaupun tahun pembangunan belum dapat dipastikan, Masjid Kesultanan Ternate pada kenyataannya tetap berdiri kokoh dan mengiringi sejarah perkembangan Islam di Ternate.

Masjid Kesultanan ini memiliki arsitektur yang sangat unik. Tidak seperti bentuk Masjid masa kini yang memiliki kubah masjid, Masjid ini berbentuk limas dengan undakan sejumlah 6 buah. Sekilas, Masjid ini memang tampak seperti Masjid tua di Jawa dengan bentuk denah bangunan kotak serta atap yang terbuat dari rumbia namun kini telah diganti seng. Komposisi bahan untuk membangun Masjid ini terdiri dari susunan batu dengan bahan perekat campuran kulit kayu pohon Kalumpang. Memang, bila kita mempelajari struktur pembangunan Masjid ini akan tampak sangat sederhana. Namun terbukti, Masjid Kesultanan Ternate ini masih berdiri dengan sangat kokoh hingga masa kini.

Banyak hal unik yang terdapat di Masjid ini. Selain arsitektur dan berbagai tradisi yang sering dilakukan di Masjid ini, beberapa aturan Masjid Kesultanan ini juga menarik untuk ditelaah. Beberapa aturan yang berlaku di Masjid ini misalnya keharusan menggunakan kopiah saat memasuki bagian dalam Masjid dan larangan untuk menggunakan sarung saat beribadah. Jadi, jemaah Masjid diwajibkan untuk menggunakan celana panjang karena alasan kepercayaan bahwa posisi kaki pria ketika salat menggunakan celana panjang akan menunjukkan huruf Lam Alif yang bermakna dua kalimat syahadat. Selain itu, kaum wanita juga dilarang beribadah di Masjid ini untuk menghindari ketidaksengajaan terjadinya datang bulan ketika ibadah. Berbagai aturan ini sudah sangat lama diterapkan dan terus dijaga oleh para penjaga Masjid yang disebut Balakusu.

Masjid Kesultanan Ternate adalah salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Tidak hanya nilai-nilai Islam yang terkandung dalam keberadaannya, namun Masjid ini juga telah menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan masyarakat Ternate sejak masa lampau. Bila kita menyadarinya, sebenarnya karakter umum warga Ternate kini terbentuk atas peran Masjid Kesultanan Ternate yang sejak dulu telah mengarahkan warganya untuk jadi lebih baik lagi. Masjid tidak hanya sebuah bangunan semata, namun bagian penting dari perkembangan satu peradaban dari jaman ke jaman

Menikmati Indahnya Kubah Masjid Emas Al Wahab, Manila

Masjid Al-Dahab adalah sebuah masjid yang berada di Manila, Filipina. Masjid ini lebih dikenal dengan nama The Golden Mosque atau Masjid Emas atau dalam bahasa Spanyol disebut Mezquita del Globo de Oro dan dalam bahasa Tagalog Filipino disebut Moskeng Ginto. Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar di Manila dan disebut dengan masjid emas karena kubahnya yang dicat dengan warna keemasan yang berkilauan.

Lokasi

Masjid Al-Dahab berdiri di ujung jalan Globo de Oro, nama jalan yang berarti “bola dunia ke-emasan”. Masjid ini berada di distrik Quiapo yang didiami oleh komunitas muslim Metro Manila. Di sekitar masjid di distrik Quiapo banyak terdapat toko, warung dan rumah makan yang menyajikan makanan halal dan buah buahan segar dari pulau Mindanao, meski pengunjungnya dari beragam latar belakang termasuk pengunjung non muslim. Masjid ini terbuka untuk kunjungan dari kalangan manapun termasuk non muslim yang ingin berkunjung ke masjid hingga ke bagian dalam

Sejarah Pembangunan

Masjid Al-Dahab ini dibangun tahun 1976 di distrik Quiapo, dalam kota Metro Manila dimasa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos berkuasa di Filipina, di bawah pengawasan langsung dari ibu negara Filipina kala itu, Imelda Marcos. Pembangunan masjid Al-Dahab ini ditujukan untuk menyambut kedatangan Presiden Libya Muammar Qaddafi yang sedianya akan datang ke Filipina untuk kunjungan kenegaraan (walaupun nantinya dibatalkan) dalam upaya menengahi pertikaian antara pemerintah Filipina dengan pejuang kemerdekaan Moro (MNLF-Moro National Liberation Front) yang ingin mendirikan Negara berasaskan Islam di gugus kepualauan selatan Filipina yaitu di kepulauan Sulu, Mindanao dan Palawan.

Arsitektur

Masjid Al-Dahab ini dibangun untuk menampung 3000 jemaah, menjadikannya sebagai bangunan masjid terbesar di kota Manila. Lengkap dengan satu kubah masjid besar berwarna ke emasan, warna kubah dengan warna emas itulah yang kemudian menjadikan masjid ini disebut sebagai The Golden Mosque. Satu menara melengkapi masjid sebagai tempat disuarakannya azan.

Masjid berkubah warna emas ini cukup megah di tengah kota Manila, interior masjid di penuhi dengan lengkungan lengkungan yang elegan. Meski beberapa laporan menyebutkan bahwa eksterior masjid tampak sedikit kurang terawat dengan baik, namun interior masjid dengan nuansa warna kuning terang ini cukup apik dan memberikan kekhususan bagi setiap jemaahnya.

Telusuri Keunikan Masjid Al Dana di Abu Dhabi

Masjid Al Dana telah dirancang oleh X-Architects di Dubai untuk menjadi masjid tengara bagi masyarakat sekitarnya. Dengan area yang dibangun seluas 2.200 meter persegi, letak masjid ditempatkan dengan hati-hati di kawasan pejalan kaki tepi laut yang menghadap ke marina, kemungkinan desain yang terinspirasi oleh konteks yang menjaga harmoni dengan lingkungan sekitarnya.

Telusuri Keunikan Masjid Al Dana di Abu Dhabi
Telusuri Keunikan Masjid Al Dana di Abu Dhabi

“Desain yang diusulkan untuk Masjid Al Dana merayakan ruang sholat pria dan wanita secara merata,” kata Ahmed Al-Ali, kepala sekolah X-Architects. “ Masjid ini menawarkan ruang doa yang diartikulasikan dengan baik secara spasial yang unik untuk wanita dan merupakan komponen utama dari desain, bukan sebagai lampiran atau ekstensi. Proposal menarik perhatian pada kesetaraan gender dari sudut pandang praktik. Bahkan, ini tercermin dengan jelas dalam bentuk dan artikulasi massa masjid. ”

Sementara kubah masjid miring dari struktur dimaksudkan untuk membangkitkan bukit pasir yang bergeser, masjid berubah menjadi lentera di malam hari, ketika cahaya dari interior memancarkan ke arah luar. Dan pada siang hari, oculus yang tinggi membawa cahaya siang ke ruang angkasa, yang disorotkan ke lantai interior tergantung pada waktu membentuk hubungan spiritual antara “interior bumi dan langit surgawi”.

Masjid Al Dana juga dirancang untuk menekankan penghematan energi. Elemen-elemen seperti oculi, perforasi dinding dan
filtrasi cahaya alami memastikan bangunan sejajar dengan langkah-langkah keberlanjutan. “Pendekatan kami pada desain bersifat eksperimental dan eksploratif,” kata Al-Ali. “Kami menata ulang komponen masjid tradisional dan menyelidiki geometri dan bahasa arsitektur dari perspektif baru yang mencerminkan kecerdasan, aspirasi dan visi UEA.”

Dia menambahkan, “Produk akhir bersifat multi-faceted, dan sesuai dengan banyak faktor dan pertimbangan – yang semuanya berinteraksi untuk membuat masjid yang avant-garde namun sangat mengakar dalam budaya dan konteksnya.”

Masjid Al Dana dimaksudkan untuk melayani baik sebagai ruang keagamaan maupun sebagai ruang publik, dengan plaza, terinspirasi oleh sahan tradisional, berfungsi sebagai penghubung kota. Menurut Yazeed Obeid, arsitek senior, proyek ini dibaca sebagai intervensi lanskap yang menghubungkan dua tingkat situs dan “memudahkan pergerakan orang, menghubungkan mereka ke kawasan pejalan kaki dan laut”.

Sederet Fakta Tentang Masjid Megah Ramlie Musofa, Sunter Jakarta Utara

Masjid Ramlie Musofa merupakan masjid cantik yang dominan berkelir putih yang beralamat di Jalan Danau Sunter Selatan 1 blok 1 10 nomor 12 C 14 A, Bagi kamu yang baru melihatnya, pasti akan melihat sebuah masjid yang mirip
dengan Taj Mahal di India.

Ada beberapa fakta menarik dari masjid cantik, diantaranya adalah

1. Nama Masjid Berasal Dari Keluarga

Nama Masjid tersebut adalah Ramlie Musofa. Ramlie Musofa merupakan nama singkatan dari Ram=Ramli Rasidin, Lie=Lie Njoek Kim, Mu=Muhammad Rasidin, So=Sofian Rasidin dan Fa=Fabianto Rasidin.

Nama keluarga diambil untuk nama masjid harapannya agar selama masjid ini masih difungsikan inshaAllah pahalanya bisa tetap mengalir kepada keluarga.

Selain sang pemilik, Haji Ramli Rasidin juga sangat mencintai keluarganya dan menunjukkan rasa cintanya dengan adanya masjid tersebut.

Bangunan masjid ini terdiri dari tiga lantai, lantai dasar diperuntukkan untuk tempat shalat wanita dan ijab kabul, lantai 2 dan seterusnya dipergunakan untuk shalat pria.

2. Tempat Wudhu Memiliki Tempat Duduk

Diketahui tempat mengambil air wudhu di masjid ini, memiliki tempat duduk.

Hal ini diwujudkan untuk memudahkan disabilitas dan juga lansia dalam berwudhu.

Selain itu, dalam ruangan berwudhu itu terdapat tata cara berwudhu yang ditulis dalam bahasa indonesia.

Mengenai hal tersebut, dimaknai untuk memudahkan seseorang yang barj memeluk islam atau muallaf menjalankan kewajibannya jika belum fasih menggunakan bahasa arab.

Maka dari itu, di dindingnya dituliskan doa sebelum dan sesudah berwudhu serta tata cara berwudhu.

3. Terdapat Dua Lift

Tersedia juga dua lift yang diperuntukkan untuk mempermudah lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas yang ingin beribadah di Masjid Ramlie Musofa.

Pengurus dan Imam salat masjid ini, Sholehuddin mengatakan keberadaan lift tersebut juga digunakan pribadi pemilik jika berkunjung ke masjid miliknya.

“Lift bisa digunakan siapa saja ada dua, khusus untuk disabilitas, ibu hamil dan lansia, Pak Haji Ramli pun menggunakannya,” kata Sholehuddin.

4. Tiga Bahasa

Pada bagian depan masjid terdapat surat Al-Fatihah yang diukir di kanan kiri dinding tangga.

Tersalat tiga bahasa yang digunakan disana, yakni bahasa Arab, Indonesia dan Mandarin.

Tujuannya untuk mempermudah muallaf dan wisatawan asing yang berasal dari Tionghoa yang ingin berkunjung ke Masjid Ramli Musofa.

5. Pemilik Seorang Muallaf

Haji Ramli Rasidin merupakan seorang muallaf yang juga keturunan dari Aceh.

Saat usianya 19 tahun, Haji Ramli memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Dan sebagai bukti cintanya pada Allah swt, dibangunnya Masjid Ramlie Musofa. Wujud cintana pada keluraga juga ditunjukkan pada penamaan masjid yang berasal dari potongan atau penggalan nama anggota keluarga.

Pada tahun tahun 2011 pembangunan masjid yang berada di tanah seluas 2.000 m2 pun mulai dilakukan.

Kemudian masjid selesai dibangun di tahun 2016.

Setelah masjid jadi, H. Ramli Rasidin pada 15 mei 2016 mengundang Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. H Nasaruddin Umar untuk meresmikannya.

Telusuri Masjid Al Dahab Manila, Filipina

Masjid Al-Dahab merupakan salah satu masjid terbesar yang menjadi sejarah peradaban Islam di Kota Manila, Filipina. Al-Dahab sendiri memiliki makna kata yaitu emas. Dengan salah satu ciri khas kubah yang berwarna emas, masjid yang berlokasi di Jalan Globo De Oro tersebut lebih dikenal sebagai Manila Golden Mosque and Cultural Center.

Pembangunan rumah Allah itu dimulai pada tanggal 4 Agustus 1976 pada masa pemerintahan Presiden Filipina ke-10, Ferdinand Marcos, yang direncanakan untuk menyambut kunjungan Presiden Libya, Muammar Qaddafi. Kunjungan kenegaraan Muamar Qaddafi itu untuk mengatasi pertikaian antara Pemerintah Filipina dengan pejuang kemerdekaan Moro National Liberation Front yang memiliki tujuan untuk membangun negara berlandaskan Islam di Kepulauan Sulu, Mindanao dan Pelawan.

Namun, kunjungan Presiden Libya itu dibatalkan dan pembangunan masjid itu telah terlanjur rampung. Sehingga Masjid Al-Dahab itu diserahkan kepengurusannya kepada kaum Muslim di Manila dan kini menjadi salah satu wilayah yang dimukimkan oleh penduduk beragama Islam.

Meskipun terlihat terlihat kurang terawat pada bagian luar masjid, tetapi interior dalam masjid hingga kubah masjid dengan tiang-tiang sebagai pondasi masjid memberikan kesan megah tersendiri. Masjid tersebut juga merupakan salah satu masjid terbesar di Manila yang dapat menampung hingga 3.000 jamaah.

Kumandang azan dari Masjid Al-Dahab membuat para kaum laki-laki bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah Shalat Dzuhur. Sebelum melaksanakan Shalat Dzuhur, para jamaah diberi kesempatan untuk melakukan Shalat Sunnah sambil diselingi tausiyah singkat dari Imam masjid menggunakan bahasa Filipina. Setelah masjid terlihat cukup ramai dari jamaah hingga empat shaf, Shalat Dzuhur berjamaah itu langsung dilaksanakan.

Di sekitar kawasan Masjid Al-Dahab itu terdapat beberapa toko yang menjual beberapa pernak-pernik cinderamata untuk wisatawan muslim. Meskipun masjid itu merupakan destinasi wisata religi bagi umat muslim, Masjid Al-Dahab terbuka untuk umum bahkan pengunjung non muslim sekalipun.

Masjid Al Ikhlas Kabukicho Tokyo di Tengah Hiruk Pikuk Shinjuku

Di Shinjuku, Jepang terdapat sebuah masjid yang bisa digunakan Muslim bila jalan-jalan ke sini. Masjidnya berdiri di kawasan hiburan yang terkenal di Jepang.

Shinjuku merupakan salah satu dari 23 distrik yang berada di Tokyo. Tapi kawasan ini lebih menjurus ke tempat hiburan, bisnis, dan perbelanjaan di sekitar Stasiun Shinjuku.

Jadi di kawasan ini kamu akan melihat gedung-gedung pencakar langit, bar-bar dan restoran kelas atas, tempat berbelanja dan tempat karaoke. Tempat ini mulai ramai saat malam mulai menjelang.

Bagi Muslim tentu merasa was-was untuk menemukan makanan Hala di pusat hiburan malam Tokyo ini. Tak perlu khawatir, di sana ada restoran Halal yang bisa traveler jumpai.

Masjid Mungil Dekat Lampu Merah

Untuk menemukan restoran Halal ini tidak terlalu sulit, karena plang toko dengan lampu neon besar bisa dibaca jelas, bertuliskan’ Halal Curry’. Lampu neon restoran Halal berwarna hijau.

Dibalik kesibukan dan ramainya dunia malam di Shinjuku, di sana terdapat masjid yang bisa digunakan Muslim. Namanya Masjid Al Ikhlas, yang alamat lengkap berada di 1 Chome-3-10 Kabukicho, Shinjuku City, Tokyo 160-0021, Jepang. Jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari Hotel Gracery.

Masjid ini terdiri dari 3 lantai dengan ukurannya sekitar 3,4 x 4 meter. Lantai pertama tempat pintu masuk dan tampak seperti ruangan serbaguna. Di lantai 1 ada toilet, tempat wudhu dan rak-rak untuk meletakan alas kaki.

Naik ke lantai dua, kamu akan menemukan ruangan salat untuk perempuan . Di sini terdapat mukena yang bisa digunakan wisatawan perempuan untuk salat.

Naik ke lantai tiga, ini adalah ruang salat untuk pria. Di lantai tiga kamu bisa menemukan mimbar kecil dan rak buku tentang beragam buku Islam. Juga ada jam serta papan yang menunjukan waktu salat di Tokyo.

Memang, masjid ini bisa dikatakan mungil. Tapi keberadaannya sangat membantu wisatawan Muslim untuk menunaikan ibadah salat.