Baja Ringan Pengganti Kayu

kubah mustaka

Baja ringan merupakan material yang murah dan sebagai pengganti kayu semakin populer di dunia kontruksi. Material ini di percaya sebagai bahan yang lebih tahan terhadap goncangan gempa. Dan biasanya di pakai untuk perumahan di kota-kota besar. Sayangnya pemilihan baja ringan yang tepat belum sepenuhnya dimengerti dengan baik oleh masyarakat awam. Kebanyakan pengguna berpendapat “asal” baja ringan, maka konstruksi akan menjadi kuat. Padahal, belum tentu semua produk ini menawarkan kekuatan yang sama.
Lucia Karina

Country VP Corporate & External Affairs NS BlueScope Indonesia menyarankan masyarakat untuk lebih hati-hati dalam memilih produk satu ini. Hal ini penting, karena salah memilih produk dapat menimbulkan kerugian besar. Secara umum sifat baja ringan adalah ringan, kuat dalam sistem terintegrasi, memiliki struktur fleksibel mampu menghadapi getaran dan tidak menjalarkan api. Saat di wawancara kompas.com di Jakarta, Lucia Kirana mengatakan bahwa penggunaan baja ringan juga efektif dan efisien dalam biaya. Menurut Engineering and Development Manager dari NS Bluescope Lysaght Irosa Wahyudi bahan material ini sudah bukan merupakan material alternatif, melainkan pilihan utama.

baja ringan

Beberapa keuntungan

Di banding dengan rangka kayu, baja ringan tidak di hinggapi oleh rayap. Proses konstruksi bangunan lebih cepat daripada material konvensional, karena terancang sistematis dan terkomputerisasi sesuai dengan perhitungan konstruksi bagian-bagian rumah dalam bentuk modul. Ada modul untuk dinding dan atap, sehingga tukang tidak perlu membuat ukuran sendiri, tinggal mengikuti instruksi modul. Kekuatan material ini menghadapi iklim di sekitar lokasi pemasangan sangat tergantung tipe lapisannya. Tidak kalah penting dari bahan ini adalah detil pemasangan, terutama jika penggunaan bermaksud untuk menghadapi gempa. Namun, jika pemilik rumah masih bersikeras menggunakan bata untuk perimeter rumah, maka hal tersebut dapat “diakali” dengan menggunakan sistem penyekatan rumah dengan material ini dan papan gipsum di dalamnya.

Meski di akui masyarakat masih menganggap penggunaan baja ringan 15 persen lebih mahal ketimbang material biasa. Namun, jika di lihat secara keseluruhan, penggunaan ini justru mampu menekan biaya karena fundamentalnya lebih murah. Sebagai perbandingan, untuk pembangunan rumah di luar Pulau Jawa, tepatnya di Kalimantan. Biaya yang harus keluar bagi rangka atap rumah berbahan material satu ini tanpa dinding sebesar Rp 31 juta. Rumah tersebut berukuran 42 meter persegi. kemungkinan besar harga di Pulau Jawa yang memiliki akses lebih mudah, bisa dapat di tekan lebih rendah.
by Adminstrator : Mustakamultitehnik