Kubah Masjid Terbesar Dengan Diameter Sepanjang 63 Meter

Kubah Masjid Dengan Diameter Sepanjang 63 Meter

Masjid Raya Al-Azham merupakan masjid terbesar dan termegah di Kota Tangerang. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 2,25 hektar dengan luas bangunan 5.775 meter persegi ini memiliki lahan parkir yang begitu luas hingga 14.000 meter persegi.

Dengan luas sebesar itu, masjid ini mampu menampung sebanyak 15 ribu jemaah, sekaligus mengukuhkan Al-Azham sebagai masjid terbesar di kota Tangerang.

Pembangunan masjid bergaya Timur Tengah ini ditandai peletakan batu pertama pada 7 Juli 1997 oleh Walikota Tangerang kala itu, Djakaria Machmud.

Kubah Masjid Dengan Diameter Sepanjang 63 Meter
Kubah Masjid Dengan Diameter Sepanjang 63 Meter

“Kubah Masjid ini diyakini sebagai kubah masjid terbesar di dunia dengan bentangan diameter sepanjang 63 meter”

Proses pembangunan masjid yang menelan dana sebesar Rp28 miliar ini selesai pada 28 Februari 2003, dan diresmikan langsung oleh Menteri Agama RI saat itu, Said Agil Husin Al Munawar.

Satu hal yang unik dan khas dari masjid ini adalah kubah besarnya yang tidak ditopang oleh tiang penyangga. Struktur kubah utama yang terletak di bagian tengah ditopang oleh empat kubah kecil yang berbentuk setengah lingkaran di sekelilingnya. Kubah utama masjid ini diyakini sebagai kubah masjid terbesar di dunia dengan bentangan diameter sepanjang 63 meter.

Di bagian dalam masjid, jemaah dapat melihat 5 kubah berwarna emas dengan hiasan kaligrafi di dalamnya. Kubah yang berjumlah lima mencerminkan kewajiban salat lima waktu dalam Islam.

Sementara pada bagian luar terdapat 4 tiang menara yang melambangkan empat tiang ilmu, yakni bahasa Arab, syariah, sejarah dan filsafat. Tinggi menara masjid yang mencapai 30 meter juga menyimbolkan jumlah 30 juz dalam Quran. Adapula tinggi kuncup menara yang menjulang hingga 6 meter sebagai perlambang rukun iman.

Terletak di lokasi strategis, berdekatan dengan pusat pemerintahan dan kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tangerang, masjid yang didesain oleh Guru Besar Ilmu Arsitektur ITB, Slamet Wirasonjaya ini menjadi ikon sekaligus kebanggaan warga Tangerang.

Karena kemegahannya, Masjid Al-Azham sering digunakan sebagai pusat kegiatan seni dan festival keagamaan Islam. Bahkan, masjid ini juga kerap digunakan oleh berbagai rumah produksi sebagai lokasi syuting program-program religi di televisi.

Arsitektur Kubah Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang – Kalimantan Barat

Arsitektur Kubah Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang – Kalimantan Barat

Masjid Agung Al-Ikhlas dibangun pertama kali pada tahun 2011 dengan dana dari APBD Kabupaten Ketapang. Keseluruhan pembangunan masjid ini menghabiskan dana hingga Rp. 50 miliar dengan rincian Rp. 37 miliar dari APBD Ketapang tahun 2011 hingga 2015, kemudian Rp. 13 miliar berasal dari dana sumbangan CSR. Kemudian pada seksi Finishing tahun 2016 lalu, kembali menghabiskan dana hingga Rp. 16 miliar.

Sampai pada bulan April 2016 lalu, pembangunan masjid ini sudah sampai pada tahap Finishing sekitar 90%. Pembangunan keseluruhan bangunannya baru selesai pada akhir tahun 2016 silam, meskipun pemberian ornamen-ornamennya dilakukan pada awal tahun 2017.

Ada banyak kontroversi yang terjadi di kalangan masyarakat sekitar, bahwa pembangunan masjid ini dinilai menghabiskan dana yang terlalu besar, sehingga muncul berbagai kecurigaan tentang adanya penyelewengan dana. Namun, kontroversi dan kecurigaan tersebut kemudian dibantah oleh panitia pembangunan masjid dan para pengurusnya, mereka menjelaskan bahwa penggunaan anggaran diperiksa setiap tahunnya oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Kalimantan Barat, dan selalu mendapatkan predikat yang “Clear” atau bersih dari korupsi atau penyelewengan dana.

Penggunaan pertama kali untuk Masjid Agung Al-Ikhlas ini dilakukan pertama kali pada tanggal 12 September 2016  lalu, tepatnya pada saat pelaksanaan Sholat Idudl Adha. Meskipun sudah dibangun dengan luas yang cukup dan dapat menampung hingga ribuan jamaah, ternyata masjid ini semakin hari semakin ramai oleh pengunjung dan jamaah, terutama pada saat bulan Ramadhan, sehingga masjid ini hampir tidak dapat menampung jamaah yang membludak.

Jika jamaah yang ditampung sudah tidak muat lagi di dalam bangunan ruang utamanya, pelataran dan halaman masjid yang cukup luas bisa digunakan sebagai tempat sholat tambahan dengan menggelar tikar meskipun hanya beratapkan langit.

Masjid Agung Al-Ikhlas Kota Ketapang disebut-sebut sebagai masjid yang memiliki interior terindah di Indonesia. Ornamen majsid ini memang dibangun sedemikian rupa menyerupai motif melayu dipadukan dengan berbagai motif Arab, sehingga menghasilkan perpaduan yang apik. Bahkan, beberapa ornamen sengaja didatangkan langsung dari luar negeri.

Telusuri 3 Masjid Bersejarah di Maluku

Telusuri 3 Masjid Bersejarah di Maluku

Islam memiliki sejarah panjang di Maluku. Meski tidak ada catatan pasti kapan Islam hadir di wilayah timur Indonesia ini, namun diperkirakan masyarakat Maluku sudah mengenal Islam sejak abad ke-15, ketika Kerajaan Ternate memeluk Islam.

Menurut catatan sejarah, raja Ternate pertama yang memeluk Islam adalah Kolano Marhum (1465-1486). Penguasa Ternate ke-18 ini memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500).

Telusuri 3 Masjid Bersejarah di Maluku
Telusuri 3 Masjid Bersejarah di Maluku

Masuknya Islam di daerah Maluku adalah berkat islamisasi yang dilakukan melalui jalur perdagangan. Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat, sehingga pada abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah.

Bukti kuat Islam di Maluku adalah keberadaan masjid-masjid bersejarah. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi tempat dakwah, pendidikan dan aktivitas lainnya.

Berikut tiga masjid bersejarah di Maluku yang dikutip dari buku //Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia//, karya Abdul Baqir Zein :

Masjid Jami Ambon

Masjid Jami Ambon didirikan pada 1860 M di atas tanah wakaf yang diberikan oleh seorang janda bernama Kharie.

Pada awalnya masjid ini hanya berdinding dan beratapkan daun rumbia dengan tiang kayu. Masjid kecil ini ternyata tidak mampu lagi menampung jamaah karena pemeluk agama Islam semakin bertambah, sehingga pada 1898 dibangunlah sebuah masjid baru di atas lokasi masjid lama, yang bentuknya lebih besar serta beratap seng.

Masjid ini sempat rusak beberapa kali. Menjelang berakhirnya kolonial Belanda di Maluku, masjid terbakar akibat ulah serdadu Kompeni yang membuka keran minyak yang berada di sebelah hulu Sungai Wai Batu Gajah. Masjid kembali dibangun oleh umat Islam.

Masjid Batu Merah

Masjid Desa atau Negeri Batumerah ini dibangun oleh orang kaya bernama Ibrahim Safari Hatala pada 1575 M. Melihat perkembangan agama Islam yang begitu cepat, Raja Abdurrahman Hatala memugar masjid pada 1805 M. Pada  1924 M, masjid kembali dipugar tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Pemugaran dilakukan karena jumlah jamaah semakin banyak.

Pemugaran kedua dilakukan di bawah pemerintahan Raja Abdul Wahid Nurlete yang juga merupakan ulama terkenal di kawasan itu pada zamannya. Pada masa itulah, Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan Bey Arifin, ulama yang disegani di Jawa Timur, pernah belajar di masjid ini.

Masjid Wapauwe

Masjid ini didirikan pada 1414 M, letaknya di kaki Gunung Wawane. Pendiri masjid ini berasal dari kaum pendatang dari Jailolo, Maluku Utara, di bawah pimpinan Jamilu. Ia adalah seorang ulama yang mengembangkan syiar agama Islam di Wawane.

Pada 1700 M, pada bagian kubah masjid dipasangkan sebuah tiang berbentuk alif. Tiang kubah tersebut terbuat dari kayu kanjoli dan hingga kini benda peninggalan bersejarah tersebut masih ada dengan bentuk yang masih orisinal. Kendati kubah telah diturunkan dari atapnya, namun tiang ukiran tersebut tetap dirawat dengan  baik oleh pengurus masjid.

Bukti sejarah lainnya yang masih tersimpan di Masjid Wapauwe ini adalah naskah khutbah Idul Fitri serta kitab suci Alquran tertua yang ditulis oleh Nurcaya pada 1590. Ia adalah murid Imam Rajali, pendiri masjid ini.

Cantiknya Masjid Hidayatullah Saonek Kampung Saonek, Kab. Raja Ampat

Cantiknya Masjid Hidayatullah Saonek Kampung Saonek, Kab. Raja Ampat

Mendengar kata Raja Ampat, kita selalu teringat dengan salah satu objek wisata terbaik di Indonesia. Bahkan Raja Ampat yang berada di kawasan Papua ini dikenal dengan salah satu destinasi wisata laut terindah di dunia, yang mana wisata ini juga dijuluki sebagai kawasan Amazon Lautan Dunia.

Cantiknya Masjid Hidayatullah Saonek Kampung Saonek, Kab. Raja Ampat

Julukan tersebut diberikan karena letak dari tempat wisata tersebut yang berada di pusat segitiga karang dunia. Wisata Kepulauan Raja Ampat berada di kawasan teritorial Papua Barat, sebuah gugusan pulau yang tersebar dengan jumlahnya berkisar 610 pulau, akan tetapi hanya ada 35 pulau yang dihuni oleh penduduk.

Selain keindahan bawah laut yang terkenal di dunia ini, nuansa Islami di Raja Ampat menjadi daya tarik sendiri. Nuansa Islami sendiri sudah mendarah daging. Sejak Kerajaan Islam Ternate dan Tidore yang meminta bantuan pada warga Papua Barat untuk bersatu padu melawan musuh-musuh Islam, hingga datangnya ulama dan dai di masing-masing daerah Raja Ampat.

Sejarah Masjid Hidayatullah Saonek

Masjid Hidayatullah Saonek yang dibangun pada tahun 1505. Masjid ini merupakan kategori Masjid Bersejarah. yang beralamat di Jl. Hi. Rafana. Kampung saonek, distrik Waigeo Selatan kab.raja ampat Raja Ampat Papua Barat . Memiliki Kubah Masjid yang sangat indah dan Masjid Hidayatullah Saonek memiliki luas tanah 1.512 m2 , luas bangunan 12.588 m2 dengan status tanah Wakaf. Masjid HIDAYATULLAH SAONEK memiliki jumlah jamaah 50 – 100 orang , jumlah muazin 3 orang .

Kaum Muslim Mulai Menggeliat di Raja Ampat

Menurut Hidayat, penjaga masjid, ketika ditemui akhir Mei lalu, di sana telah digelar shalat Jumat. Bahkan, selama Ramadhan, masjid tersebut selalu menggelar shalat Taraweh.

Tapi sayang, cerita laki-laki paruh baya asal Sukabumi, Jawa Barat, yang telah empat tahun diberi amanah menjaga dan memakmurkan masjid tersebut, setiap datang waktu shalat fardhu, masjid tersebut sepi. Hanya beberapa orang saja yang ikut shalat berjamaah.

“Paling cuma dua atau tiga orang saja. Kalau magrib, sedikit lebih banyak,” kata Hidayat dengan logat Sunda yang sudah mulai menghilang.

Di pusat kota Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, juga ada masjid besar. Namanya Masjid Agung Waisai. Masjid ini pernah dipakai sebagai tempat Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat propinsi Papua Barat pada 2014 silam. Kapasitasnya sekitar seribu jamaah.

 

Keunikan Kubah Masjid Wapauwe, Maluku Utara

Keunikan Kubah Masjid Wapauwe, Maluku Utara

Dibandingkan dengan Masjid Demak yang dianggap merupakan pusat penyebaran Islam di Jawa, Masjid Wapauwe memiliki usia lebih tua. Dibangun pada tahun 1414, masjid ini menjadi saksi penyebaran Islam di tanah Maluku.

Awalnya, sekitar tahun 1400, Perdana Jamillu dari Kesultanan Jailolo di Moloku Kie Raha (kini Maluku Utara), datang ke Tanah Hitu atau Leihitu untuk menyiarkan agama Islam pada masyarakat di lima perkampungan di Pegunungan Wawane. Baca juga: Masjid Angke, Dirancang Arsitek China dan Dibangun Orang Bali Kelima perkampungan itu adalah kampung Assen, Wawane, Atetu, Tehalla, dan Nukuhaly.

Perdana Jamillu bersama orang kaya Alahahulu kemudian membangun masjid di lereng Gunung Wawane. Dua kali berpindah lokasi Harian Kompas, 28 September 2007 mencatat, pada tahun 1614 masjid dipindahkan ke Negeri Tehala untuk menghindari tekanan Belanda. Lokasi ini berjarak enam kilometer ke arah timur Wawane.

Di lokasi baru ini, masjid didirikan di sebuah dataran yang banyak ditumbuhi pohon mangga, atau dalam bahasa setempat disebut wapauwe. Nama inilah yang kemudian mengilhami pemberian nama masjid. Setelah Perang Wawane dan Perang Kapaha, Belanda yang berhasil menguasai Tanah Hitu pun memakasa masyarakat yang tinggal di gunung untuk turun ke pesisir. Hal ini dilakukan agar memudahkan pengawasan. Dengan adanya aturan ini, Masjid Wapauwe pun juga ikut dipindah ke lokasi saat ini (Kaitetu). Pemindahan masjid yang terjadi pada tahun 1664 tersebut dikenal sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Arsitektur masjid Masjid ini dibangun dari material kayu, dengan luas yang hanya 10 x 10 meter. Salah satu ciri khas yang ada di masjid ini adalah penggunaan gaba-gaba atau pelepah sagu dan rumbia sebagai atapnya. Dinding masjid terbuat dari papan dan batang daun sagu. Bagian utama ditopang oleh empat tiang, sedangkan sekeliling dindingnya ditopang dengan 12 buah tiang. Struktur bangunan juga unik. Apabila dilihat dari samping, maka bangunan akan terlihat miring. Kemiringan ini tampak pada bagian kubah yang tidak simetris dengan bentuk masjid. Interior masjid dipenuhi ukiran kaligrafi. Di sudut timur dan barat atap terdapat ukiran kaligrafi yang berbunyi ‘Allah-Muhammad’, sedangkan di sebelah utara dan selatan terdapat kaligrafi berbunyi ‘Muhammad’. Masjid ini tidak menggunakan paku. Setiap bagian disambung dengan cara memasukkan ujung kayu lain ke bagian kayu lainnya. Di dalam masjid masih tersimpan musyaf Alquran yang selesai ditulis pada ahun 1550. Alquran ini ditulis oleh imam Muhammad Arikulapessy, menggunakan tinta campuran getah pohon dan pena urat enau. Selain Alquran, tempat ini juga menyimpan timbangan zakat fitrah dari kayu dengan pemberat yang terbuat dari kerang laut. Ada pula anak timbangan dengan berat 2,5 kilogram yang terbuat dari campuran batu dan kapur. Satu anak timbangan ini sama dengan satu zakat di masa lampau. Umumnya, masyarakat zaman dulu akan membayarkan zakat meeka dengan hasil bumi seperti sagu maupun rempah.

 

Telusuri Sejarah Masjid Al Mashun, Medan

Telusuri Sejarah Masjid Al Mashun, Medan

Keindahan Masjid Raya al-Mashun tidak hanya tecermin pada fisik bangunannya, tetapi juga tentang bagaimana proyek pendiriannya berlangsung. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, rumah ibadah ini dibangun dengan sokongan sultan Deli. Namun, ada pula pihak-pihak lain yang turut membantu terwujudnya ikon kerajaan ini.

Di antaranya adalah Tjong A Fie, seorang berdarah Tionghoa yang dikenal luas sebagai saudagar sukses di Deli. Satu sumber menyebutkan, pebisnis perkebunan tersebut menyumbang sekitar sepertiga dari total biaya yang diperlukan untuk membangun Masjid Raya al-Mashun. Fakta ini menandakan ada hubungan yang saling mendukung antara pihak kesultanan Deli dan para pengusaha yang mengadakan bisnis di negeri tersebut, tanpa memandang perbedaan keyakinan dan suku bangsa.

Masjid Raya al-Mashun tercatat mengalami perbaikan beberapa kali sejak dibangun pada permulaan abad ke-20. Di tahun 1927, restorasi atas Masjid Raya al-Mashun dilakukan dengan wujud kerja sama antara pihak kesultanan Deli dan perusahaan Deli Maatscapij. Selanjutnya, restorasi dilaksanakan pada zaman Republik Indonesia, yakni tahun 1966, atas dukungan pemerintah kota Medan. . Situs bersejarah ini sekarang telah melewati masa satu abad lamanya. Pemerintah daerah setempat menjadikannya salah satu destinasi wisata unggulan bagi para pelancong yang datang ke Kota Medan.

Uniknya Masjid As Safinatun Najah Kapal Nabi Nuh, Semarang

Uniknya Masjid As Safinatun Najah Kapal Nabi Nuh, Semarang

Jika berkunjung ke Semarang jangan lupa mampir ke masjid unik ini. Masjid ini dikenal dengan sebutan “Masjid Kapal Bahtera Nabi Nuh”. Ya, disebut masjid kapal karena bentuknya seperti kapal. Persisnya menggambarkan kapal Bahtera Nabi Nuh yang menyelamatkan umatnya saat negerinya diterjang banjir bandang.

Indonesia dikenal dengan banyak sekali masjid dengan arsitektur mengagumkan, salah satunya adalah Masjid As Safinatun Najah. Tak seperti masjid megah pada umumnya, masjid yang beralamat di Jalan Kyai Padak, Podorejo, Kota Semarang ini mirip dengan kapal Nabi Nuh. Saking uniknya, tak heran jika masjid berbentuk bak bahtera Nabi Nuh ini sempat viral dan mencuri perhatian warganet dari segala penjuru.

Kubah Masjid As Safinatun

Masjid unik ini berada di kampung pinggiran Semarang wilayah Barat. Tepatnya di Jln Kyai Padak RT 5/RW 5, Kelurahan Podorejo kecamatan Ngaliyan kota Semarang, Jawa Tengah. Sekitar 15 kilometer dari bandara A Yani. Di kampung dekat hutan itulah seorang kyai bernama Achmad membangun masjid unik ini seluas 2.500 meter persegi.

Terlebih, Masjid As Safinatun Najah ini berdiri di tengah kolam dan tampak mengapung layaknya kapal mengarungi luasnya samudera. Masuk ke dalamnya, Masjid As Safinatun Najah ini sendiri memiliki 3 lantai. Pada lantai pertama, masjid ini dilengkapi sejumlah fasilitas umum seperti aula, tempat wudhu dan juga toilet lengkap dengan arsitektur unik. Sedangkan, para pengunjung atau wisatawan dapat melaksanakan salat di lantai dua Masjid As Safinatun Najah ini.

Rencananya, lantai 3 bangunan Masjid As Safinatun Najah ini akan dijadikan sebagai perpustakaan juga lho. Masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh ini ternyata telah dibangun di Semarang, Jawa Tengah sejak tahun 2014 lalu. Saking uniknya, tentu saja bangunan masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berlibur ke Semarang. Beberapa wisatawan atau warga lokal yang berkunjung bahkan tak segan untuk mengabadikan momen berfoto dengan latar belakang bangunan Masjid As Safinatun Najah ini. Jika ingin berkunjung ke Masjid As Safinatun Najah ini, pengunjung harus terlebih dahulu menempuh perjalanan kurang lebuh 45 menit dari pusat kota Semarang.

 

Kubah Masjid Agung Surakarta Bergaya Adat Jawa

Kubah Masjid Agung Surakarta Bergaya Adat Jawa

Masjid Agung Surakarta, dahulu masjid ini bernama Masjid Ageng Keraton Hadiningrat dan dibangun oleh Pakubuwono III pada sekitar tahun 1749. Terletak di sekitar Alun-alun Utara Keraton Surakarta, tepatnya di bagian barat, masjid ini memiliki posisi penting dalam penyebaran Agama Islam di Solo.

Pembangunan masjid ini tidak terlepas dari peran penting yang dipegang oleh seorang raja pada saat itu. Ketika itu, raja tidak hanya menjadi pemangku kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, tapi juga sebagai penyiar agama. Selain itu, pemilihan lokasi masjid yang dekat dengan keraton terinspirasi dari Masjid Agung Demak yang juga dibangun di dekat keraton dan alun-alun keraton.

Berdiri di atas lahan seluas hampir 1 hektare, bangunan utama masjid yang berukuran 34,2 meter x 33,5 meter mampu menampung sekitar 2.000 jamaah. Sepanjang perjalanannya, masjid ini telah melalui beberapa penambahan dan renovasi.

Masjid Agung Surakarta Ikonik Kota Solo

Bangunan yang pertama dibuat adalah bagian utama masjid. Penambahan pertama dilakukan oleh Pakubuwono IV, yang memberikan kubah masjid di bagian atas . Tidak seperti kubah pada umumnya yang bergaya Timur Tengah, kubah masjid ini bergaya Jawa. Bentuknya menyerupai paku bumi.

Penambahan berikutnya dilakukan oleh Pakubuwono X. Pakubuwono membangun sebuah menara di sekitar masjid serta sebuah jam matahari untuk menentukan waktu solat. Pintu masuk masjid pun mengalami perubahan pada masa Pakubuwono X. Pintu bercorak gapuran bangunan Jawa beratap limasan diganti menjadi bercorak Timur Tengah – terdiri dari tiga pintu, dengan pintu yang berada di tengah lebih luas dari kedua pintu yang mengapitnya.

Sementara, Pakubuwono XIII membangun kolam yang mengitari bangunan utama masjid. Pembangunan kolam ini dimaksudkan agar setiap orang yang akan masuk ke dalam masjid dalam keadaan bersih. Tapi, karena berbagai alasan, kolam ini tidak lagi difungsikan. Selain itu, Pakubuwono XIII juga membangun ruang keputren dan serambi di bagian depan.

Penambahan terakhir dilakukan oleh Pemerintah Surakarta. Masih di area masjid, ditambahkan beberapa bangunan dengan fungsi berbeda. Ada perpustakaan, kantor pengelola, dan poliklinik.

Pada masa lalu, pengurus masjid ini merupakan anggota abdi dalem keraton. Setiap pengurus diharuskan terlebih dahulu menuntut ilmu di Madrasah Mam Ba’ul ‘Ulum – yang terletak di antara masjid dengan Pasar Klewer. Tapi kini, hanya kepala pengurus masjid yang menjadi abdi dalem keraton – dengan gelar Tafsir Anom. Sementara, Madrasah Mam Ba’ul ‘Ulum dikelola oleh Departemen Agama dan dijadikan pendidikan untuk masyarakat umum.

Masih di sekitar masjid, tepatnya di sebelah utara, terdapat sebuah pemukiman yang bernama Kampung Gedung Selirang. Pemukiman ini sengaja dibangun untuk tempat tinggal para pengurus masjid.

Sampai saat ini, Masjid Agung Surakarta masih menjadi pusat tradisi Islam di Keraton Surakarta. Masjid ini masih menjadi tempat penyelenggaraan berbagai ritual yang terkait dengan agama, seperti sekaten dan maulud nabi, yang salah satu rangkaian acaranya adalah pembagian 1.000 serabi dari raja kepada masyarakat.

Telusuri Masjid Raya Hubbul Wathan Mataram Lombok

Telusuri Masjid Raya Hubbul Wathan Mataram Lombok

Masjid Raya Hubbul Wathan terletak di kota Mataram. Masjid Raya Hubbul Wathan termasuk ke dalam wilayah Islamic Center yang dibangun di atas lahan seluas 74.749 meter persegi. Desain kubah Masjid Hubbul Wathan ini dibuat mirip dengan batik khas Suku Sasambo (Sasak, Samawa, Mbojo). Ketiga suku itu merupakan yang terbesar di NTB.

Masjid Raya Hubbul Wathan memiliki empat menara yang mengapit di setiap sudutnya, tinggi setiap menara mencapai 66 meter. Selain itu, terdapat juga menara utama yang menjulang tinggi mencapai 99 meter di pintu masuk utama masjid. Tinggi menara 99 meter tersebut memiliki arti sebagai simbol agar masyarakat ingat dengan nama 99 nama Allah atau asmaul husna.

Menara 99 di Islamic Center Hubbul Wathan ini dibuka untuk umum atau wisatawan yang ingin menikmati view kota Mataram dari ketinggian atau sekedar melihat deretan kubah kubah masjid besar lainnya yang tersebar hampir sejauh mata memandang.

 

 

Masjid-Termegah-di-Pulau-Lombok-1
Masjid-Termegah-di-Pulau-Lombok

Masjid Raya Hubbul Wathan

Di dalam bangunan masjid, ada karpet yang membentang khusus untuk dilewati oleh wisatawan non-Muslim. Wisatawan non-Muslim yang ingin melihat keindahan arsitektur masjid diharuskan menggunakan pakaian tertutup aurat atau jubah yang telah disediakan. Disediakan tourism zone di lantai tiga sebagai pusat informasi untuk para wisatawan.

Bangunan masjid nan megah berdiri persis di jantung kota Mataram, ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dibangun di tanah seluas 6.7 hektar, Masjid Raya Hubbul Wathan atau biasa disebut Islamic Center NTB ini terlihat begitu mencolok dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekelilingnya. Terlebih lagi, di bagian atasnya terdapat kubah masjid raksasa berwarna keemasan dengan motif batik Sasambo berwarna hijau tua, sebuah motif yang merupakan motif batik khas NTB yang mewakili 3 suku yakni Sasak Samawa dan Mbojo.

Empat Menara besar berwarna serupa mengapit di setiap sudutnya, tinggi setiap Menara mencapai 66 meter. Selain itu, Menara utama yang menjulang tinggi setinggi 99 meter di pintu utama masjid melengkapi keindahan arsitektur modern ini. Tinggi Menara mewakili 99 nama Allah atau asmaul husna. Menara 99 di Islamic Center Hubbul Wathan ini dibuka untuk umum atau wisatawan yang ingin menikmati panorama kota Mataram dari Ketinggian atau sekedar melihat deretan kubah kubah masjid besar lainnya yang tersebar hampir sejauh mata memandang.

Masjid ini kini menjadi kebanggaan masyarakat NTB pada umumnya dan Lombok khususnya. Hampir setiap upacara keagamaan diselenggarakan di masjid ini. Bulan Ramadhan tahun 2017 lalu dan Ramadhan tahun 2018 ini, Islamic Center Hubbul Wathan dimeriahkan oleh hadirnya 4 imam besar dunia. Selain berwisata, kamu bisa merasakan sensasi sholat tarawih layaknya di Masjidil Haram.

Arti Simbol Bulan Sabit dan Bintang di Atas Kubah Masjid

Arti Simbol Bulan Sabit dan Bintang di Atas Kubah Masjid

Apakah Simbol Bulan Sabit dan Bintang di Atas Kubah Masjid adalah Lambang Islam? Begini Penjelasannya

Saat berkunjung atau melewati masjid, seringkali kita melihat adanya simbol bulan sabit dan bintang yang diletakkan di atas kubah masjid. Sebagian besar masjid memiliki dekorasi ini, lantas bagaimanakah asal-usul dari bulan dan bintang ini? Apakah ia termasuk dalam syiar Islam?

Dilansir dari Konsultasi Syariah, terdapat beberapa keterangan dari para ulama mengenai simbol bulan dan bintang. Sebuah riwayat dari Ibnu Yunus, seorang sahabat bernama Abul Kanud, Sa’d bin Malik al-Azdi bertamu kepada Rasulullah saat di Madina. Ia melihat Rasulullah memasangkan bendara berwarna hitam dan bergambar bulan sabit putih.

“Said bin Ufair meriwayatkan dari Amr bin Zuhari bin Asmar bin Abul Kanud, bahwa Abul Kanud pernah bertamu kepada Rasulullah dan diberi bendera itu.”

Namun, riwayat tersebut kemudian dinyatakan dhaif.

Beberapa ulama yang lain mengatakan bahwa simbol bulan dan bintang tidak dikenal pada zaman Rasulullah. Namun, ada yang mengatakan bahwa simbol ini pertama kali muncul pada zaman Daulah Utsmani sebagai simbol resmi kesultanan.

Pada awalnya, simbol bulan bintang ini tak memiliki hubungan dengan agama sehingga tidak disebut sebagai syiar Islam melainkan bersifat politik. Bendera bulan sabit ini menjadi bendera resmi umat Islam pada masa itu karena seluruh wilayah dunia Islam berada dalam naungan khilafah Islamiyah.

Menurut kitab At-Taratib Al-Idariyah yang dinukil dari keterangan Syihab Al-Mirjani dalam kitab Wafayat Al-Asraf disebutkan bahwa meletakkan simbol bulan dan sabit di menara masjid termasuk bid’ah.

“Meletakkan gambar bulan dan sabit di atas menara-menara masjid, termasuk bid’ah (sesuatu yang baru). Para penguasa Daulah Utsmani menggunakan lambang ini sebagai lambang resmi, meniru lambang istana di Romawi.

Dalam Fatwa Islam, disimpulkan bahwa setiap syiar dan lambang harus sesuai dengan syariat, artinya jika tak ada dalil yang menunjukkan anjuran tersebut, maka hal yang paling tepat dilakukan adalah meninggalkan.

Wallahu a’lam.